Aksara Bea in Wonderland

My Wonderland of Words

This is the other side of me in "aksara" a.k.a "letters" with my own way, my own Wonderland, Aksara Bea

Sabtu, 15 Januari 2011

BUKU : The Great Gatsby


Judul Buku : The Great Gatsby
Penulis : F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktober 2010

Buku ini adalah hadiah yang kedua kalinya saya menang dari kuis. Senang, sudah pasti, karena  dapat hadiah dari peri buku. Sedih, sudah tentu, karena harus mengorek waktu tambahan untuk membacanya. Tidak seperti buku pertama yang saya menangkan, buku kedua ini langsung saya baca hingga tuntas dan dibuat ulasannya, lalu setelahnya kebingungan karena tak ada lagi bacaan sampingan yang menyenangkan disamping buku-buku rutin yang harus saya baca dan pelajari tiap hari tanpa bosan. Maka dari itu saya pun berusaha mendekati peri buku lagi untuk mendapatkan bacaan-bacaan menarik berikutnya. *tersenyum dan tertawa*

Jay Gatsby, entah nama asli atau nama samaran atau nama yang telah diganti untuk kepentingan tertentu, adalah seorang lelaki kaya raya yang tinggal di sebuah mansion mewah di tepi teluk kawasan West Egg yang indah dan sunyi. Tak seorang pun yang tinggal di daerah itu mengenalnya dengan baik dan mengetahui asal – usul keluarganya. Yang diketahui oleh orang – orang yang mengenal namanya saja adalah pesta – pesta mewah yang selalu diselenggarakannya di tiap Sabtu malam dengan dansa, cerutu dan sampanye melimpah. Ia adalah sosok yang ramah, namun terkesan tertutup. Tak ada yang peduli dengan apa yang ia pikirkan dan rasakan. Orang – orang yang hadir di pestanya merasa sudah cukup hanya mengenal namanya saja seolah itu adalah tiket masuk pesta gemerlap yang diselenggarakannya. Maka tak heran jika segelintir orang pun mulai mengumbarkan cerita – cerita negatif tentang dirinya dan pesta yang diadakannya di tiap hari Sabtu.

Hingga suatu hari, Gatsby, begitu panggilan nama keluarganya, mengirimkan sebuah undangan pesta yang diadakannya di hari Sabtu berikutnya secara resmi kepada Nicholas Carraway, tetangganya yang tinggal di sebuah rumah sederhana dengan halaman rumput tak terawat. Nick pun senang karena merasa sebagai tamu terhormat bagi Gatsby. Sebuah undangan pesta yang membawa Nick melihat sisi lain dari kehidupan kalangan sosial atas. Sebuah undangan pesta yang perlahan mulai mengubah sejarah hidup Nick selanjutnya. Di pesta itu pun Nick bertemu dengan perempuan yang luar biasa dan juga misterius yang kelak menjadi kekasihnya, Jordan Baker. Dan dari Jordan pula Nick akhirnya mengetahui secara gamblang hubungan Gatsby dengan sepupunya, Daisy, di masa lalu serta retaknya rumah tangga Daisy dan Tom karena faktor perselingkuhan.

Nick adalah tokoh dilematis. Ia diciptakan oleh Fitzgerald, selain sebagai narator cerita, juga untuk menjadi saksi atas sebuah hubungan yang penuh intrik dan pengkhianatan sehingga ia sendiri pun mengalami kegagalan dalam urusan percintaannya sendiri. Di akhir kisah, kekasihnya – Jordan –  bertunangan dengan pria lain. Gatsby merancang sebuah kejadian koheren untuk bertemu kembali dengan Daisy, sepupu Nick, melalui tangan Nick secara tidak langsung. Sebagai seorang lelaki dewasa, sudah seharusnya Nick dapat mengetahui arah dan maksud tertentu yang akan terjadi jika Daisy bertemu kembali dengan kekasih lamanya. Namun, Nick seolah dibuat tak berdaya dan merasa kasihan pada Gatsby hingga membiarkan kejadian itu terjadi, yang seharusnya bisa dicegah pada awalnya. Nick juga harus senantiasa meredam amarahnya terhadap kebohongan – kebohongan yang diutarakan oleh Gatsby. Selain itu, Nick pun seolah dibuat secara tak kasatmata layaknya malaikat saat ia menemani Tom, suami Daisy, bertemu Myrtle Wilson, selingkuhan Tom yang telah bersuami, di sebuah bengkel pinggir jalan yang penuh debu hingga flat yang dibelikan Tom secara pribadi untuk Myrtle.

Tokoh Nick yang seperti menuliskan buku harian dalam latar penceritaan kisah di buku ini seperti Fitzgerald asli yang sedang berusaha menuang semua pola pikir akan pandangannya terhadap masa hidupnya di waktu itu dalam buku ini. Ia menyayangkan kehidupan manusia yang keluar dari alur semestinya setelah melewati masa penderitaan perang. Ia menjadikan Nick, wujud fantasinya, sebagai orang yang mengutarakan isi hatinya untuk disebarkan kepada dunia luar agar orang – orang di luar sana mengetahui isi pikirannya. Sebuah pilihan yang cerdas.

Gambaran perselingkuhan dan aroganisme dalam tokoh Daisy dan Tom yang dideskripsikan Fitzgerald pun tampak sekali adanya kejenuhan terhadap kehidupan sosial kalangan atas yang monoton pada masa itu. Kedua tokoh ini mencari pelarian fantasi dengan menghalalkan berbagai cara hingga menyakiti orang – orang disekitar mereka. Hingga pada akhir cerita tak ada satu pun tokoh yang digambarkan memiliki akhir kisah yang indah dan berbunga. Akhir cerita yang mendeskripsikan secara nyata keadaan kehidupan di tahun 1920-an pasca Perang Dunia I yang penuh dengan intrik dan pelanggaran terhadap tatanan pola sosial masyarakat yang sarat akan kejenuhan dalam rupa keserakahan, sarkasme, dan hasrat akan kesenangan terhadap duniawi.

Saya tidak tahu citra seperti apa yang hendak dibangun oleh Fitzgerald terhadap tokoh Gatsby hingga memberi judul bukunya The Great Gatsby. Apa yang hebat dari Gatsby disamping kekayaan yang diperolehnya melalui cara yang kurang terpuji atau karena akhir hidupnya yang sangat singkat dan diakhiri dengan cepat secara tragis. Saya merasa adanya ketidakcocokan antara tokoh Gatsby yang dianggap menjadi sentral dalam cerita ini dengan judul The Great Gatsby pada buku ini.

Beberapa baris kalimat yang saya sukai dari buku ini:
  • Setiap kali kamu ingin mengkritik seseorang, ingatlah bahwa semua orang di dunia ini tidak memiliki kelebihan seperti yang kamu miliki. (hal.7)
  • Dia menyalakan rokok Daisy dari geretan yang gemetaran (hal.147) Ritual ini menandakan dengan jelas era masa itu dimana kaum perempuan tak lagi malu – malu menunjukkan sisi maskulinitas seperti merokok secara bebas layaknya kaum pria. Bahkan seorang perempuan dewasa yang telah mencicipi rokok dianggap berkelas.
  • Esok kita akan berlari lebih cepat, merentangkan tangan lebih lebar (hal.276)
  • Kita terus bergerak, maju melawan arus, pantang surut ke masa lalu. (hal.276)
Pesan yang tersirat dari buku ini membuatku teringat akan pesan Ratna Sarumpaet kepada putrinya, Atiqah Hasiholan, yakni: “Jangan pernah jatuh cinta pada suami orang.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar