Aksara Bea in Wonderland

My Wonderland of Words

This is the other side of me in "aksara" a.k.a "letters" with my own way, my own Wonderland, Aksara Bea

Sabtu, 15 Januari 2011

Nukilan Buku : Lincoln, Sosok Pemimpin Yang Selalu Melayani Rakyat

Cerita ini berawal pada masa Perang Saudara yang terjadi di Amerika Serikat yang berlangsung pada tahun 1861–1865.

Di suatu hari yang kelam di masa Perang Saudara itu, Presiden Abraham Lincoln mengunjungi salah satu barak militer yang merawat prajurit-prajurit yang terluka saat perang. Beliau menghampiri salah satu prajurit yang terluka cukup parah hingga kesulitan untuk bernafas. Sambil mengamati kondisi prajurit yang kesusahan itu, Presiden Lincoln bertanya padanya,

“Adakah yang bisa kubantu untukmu?”

Dengan nafas yang terputus – putus, prajurit itu berkata kepada Presiden Lincoln sambil menahan rasa sakit dengan mata terpejam.

“Maukah Anda….hhhh….menuliskan….surat….hhh….untuk ibuku?”

Presiden Lincoln menyanggupinya dan mengambil sehelai kertas beserta bolpoin miliknya, lalu menuliskan surat yang diminta oleh prajurit sekarat itu yang dengan nafas terputus – putus mendiktekan kepada Presiden Lincoln surat yang ingin dia kirimkan kepada ibunya.

“Ibu Sayang,
Aku terluka sangat parah ketika aku sedang mengabdi kepada negara.
Tampaknya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama.
Jangan sedih bahwa aku akan mendahuluimu.
Sampaikan ciumku pada John dan Mary dariku.
Aku akan berdoa, Tuhan akan memberkati kita.”

Setelah selesai mendiktekan isi suratnya kepada Presiden Lincoln, prajurit itu terbatuk – batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Prajurit itu meminta kepada Lincoln untuk memberikan surat yang telah selesai ditulis kepadanya untuk melihat apakah isi suratnya sudah sesuai dengan keinginannya.
Saat mencapai akhir dari pembacaan surat yang telah ditulis oleh Presiden Lincoln, prajurit itu tercengang dengan kata – kata yang tertulis di catatan akhir surat itu sebagai berikut,

“PS: Surat ini didiktekan oleh anakmu kepada Abraham Lincoln.”

Prajurit itu semakin tidak percaya dengan apa yang dibacanya dan bertanya kepada Presiden Lincoln yang masih berdiri di samping tempat tidurnya, memandangnya dengan tatapan mata yang lembut.

“Apakah…hhh…. Anda benar – benar…..hhhhh…… Presiden Abraham Lincoln?”

Prajurit itu semakin sulit berbicara karena kesulitan bernafas dan bertambah sekarat. Presiden Lincoln menganggukkan kepalanya dan bertanya lagi kepada prajurit itu.

“Ada lagi yang bisa kubantu?”

Prajurit itu mengulurkan tangan kanannya yang bergetar karena menahan rasa sakit yang mendalam dan meminta kepada Presiden Lincoln untuk memegang tangannya yang terulur itu sambil berkata.

“Pak Presiden, hhh…. jika Anda mau melakukannya, …..rasanya aku dapat pergi dengan tenang.”

Hingga beberapa saat kemudian, prajurit itu membuka matanya kembali dan melihat bahwa Presiden Lincoln masih memegangi tangannya tanpa dilepas sekalipun. Prajurit itu lalu berkata.

“Anda pastilah sangat sibuk, Pak Presiden. ….hhhh…. Sekarang Anda sudah boleh melepaskan tanganku.”

Kemudian Presiden Lincoln berkata dengan wibawa dan lembut kepada prajurit itu.

“Kau adalah seorang prajurit yang baik. Putra bangsa Amerika Serikat yang terbaik. Betapapun sibuknya aku sebagai seorang Presiden, aku wajib mendampingi warga negara kami seperti kau ini. Itulah alasannya mengapa ada seorang presiden di negara ini.”

Setelah mendengar perkataan Presiden Lincoln, prajurit itu terharu dan meneteskan air matanya. Dan setelah itu prajurit itu meninggalkan dunia fana ini dengan damai.

 Abraham Lincoln terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke 16 dan memenangi pemillu sekali lagi sebagai Presiden AS yang ke 17. Dia terkenal sebagai Presiden yang menghargai setiap hak – hak hidup manusia. Dia adalah Presiden AS yang pertama yang menghapuskan perbudakan dan mensetarakan kedudukan antara orang – orang berkulit putih dengan orang – orang yang berkulit hitam. Inilah yang memicu terjadinya Perang Saudara di Amerika Serikat yang berlangsung dari tahun 1861–1865.

Abraham Lincoln tidak pernah bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Dia berhenti bersekolah pada kelas 9 dan membutuhkan waktu hingga 17 tahun untuk berhasil melunasi semua hutangnya akibat bisnisnya yang bangkrut. Sebelum menjadi Presiden AS, dia pernah mencoba untuk ikut pemilihan anggota Kongres tetapi gagal, begitu juga dengan keikutsertaannya dalam pemilihan Senator dan Wakil Presiden yang juga berujung pada kegagalan. Dia tetap tabah menghadapi semua kegagalannya itu hingga pemilihan Presiden dimenanginya dan membawanya ke Gedung Putih sebagai Presiden AS yang ke 16 sesudah James Buchanan, sebelum Ulysses S. Grant. Beliau sanggup menghadapi berbagai serangan terhadap dirinya terutama Perang Saudara (1861–1865) yang berhasil dimenangi oleh pihaknya, Pihak Utara, dan berhasil menghapuskan jurang pemisahan antara golongan masyarakat kulit hitam (budak) dan kulit putih.

Pada tanggal 14 April 1865 Presiden Abraham Lincoln tewas ditembak oleh John Wilkes Booth, simpatisan Pihak Selatan yang kalah dalam Perang Saudara. Saat itu Presiden Lincoln sedang menghadiri acara pementasan “Our American Cousin” di Ford’s Theatre dengan isti dan dua orang tamunya di atas balkon penonton kehormatan. Hingga sekarang beliau tetap menjadi Presiden yang sangat dihormati oleh rakyat AS.
Selain pidatonya, Abraham Lincoln juga terkenal dengan kutipan – kutipannya seperti:
-“Jika tidak ingin diperbudak, janganlah memperbudak orang lain.”
-“Teman terbaikku adalah siapapun yang memberiku buku untuk kubaca.”
-“Jika kita ingin memenangkan hati seseorang, pertama – tama yakinkan dia terlebih dahulu bahwa kita tulus berteman dengannya.”
-“Aku mencabuti rumput liar dan menanam bunga di tempatnya akan bertumbuh.”
-“Aku tidak tahu siapa kakekkku. Aku lebih peduli untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada cucu–cucunya.”
-“Yang terbaik tentang masa depan adalah datangnya dari hari ke hari.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar