Aksara Bea in Wonderland

My Wonderland of Words

This is the other side of me in "aksara" a.k.a "letters" with my own way, my own Wonderland, Aksara Bea

Senin, 17 Januari 2011

Nukilan Buku : Kharisma Kepemimpinan Seorang Jefferson

Di suatu siang yang hangat, aku dan kakak sepupuku menyeberangi sebuah jalan protokol yang sibuk ketika lampu hijau pejalan kaki menyala terang. Saat itu kami baru saja makan siang bersama di sebuah restoran Italia.

Seorang wanita paruh baya yang berdiri di ujung jalan menghampiri kami yang baru saja menyeberangi jalan dan bertanya tentang sebuah alamat yang akan ditujunya yang berada di antara bangunan pencakar langit yang sering menyesatkan itu. Kemudian wanita itu mengucapkan terimakasih kepada kakak sepupuku dan setelah kami berjalan cukup jauh, aku bertanya kepadanya.

“Dari sekian banyak pejalan kaki yang berjalan ke arahnya, mengapa hanya kamu yang dipilih untuk ditanya?”

Dengan rendah hati dia menjawab, “Menurut anggapanku, di matanya ada keramahan yang kumiliki tercermin di wajahku dan dia yakin tidak akan menyesal jika telah bertanya kepadaku.”
Aku mengganggukkan kepala. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Cerita di atas ini juga terjadi dan dialami oleh seorang Bapak paruh baya yang akan menyeberangi sungai yang dingin mengalir deras di musim dingin bersalju yang kurang bersahabat. Bapak itu hanya berdiri di tepi sungai itu dan memandanginya sambil berlindung di dalam mantel tuanya dari terpaan salju – salju yang berjatuhan dari langit.

“Apa yang harus kulakukan?” pikirnya sambil terus memandangi sungai itu tanpa tahu harus melangkah kemana. “Aku tidak dapat menyeberanginya dan juga tidak dapat berbalik…” Bapak itu semakin merapatkan mantelnya saat udara dingin berhembus memasuki balik mantelnya. Dia hanya bisa berdiri mematung sambil menahan terpaan salju – salju yang berjatuhan mengenai dirinya.
“Sungainya tidak begitu dalam, tetapi ada lapisan es yang tipis dimana – mana. Jika jatuh ke dalam sungai, aku akan mati membeku sebelum mencapai separuh jalan ke seberang.”

Hari semakin senja dan langit mulai gelap. Salju yang turun semakin deras. Hembusan angin semakin kuat. Bapak itu sadar bahwa dirinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi di tempatnya berdiri itu, tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa agar bisa menyeberang ke tepian sungai di seberangnya. Bapak itu sangat lelah dan lapar. Dia merasa tenaganya sudah hampir habis.



Angin berhembus semakin kencang. Sambil berpikir apa yang harus dilakukannya, Bapak itu mendengar bunyi derap langkah kaki kuda yang semakin mendekatinya. Bapak itu menoleh ke arah suara derapan langkah kaki kuda itu. Dia merasa tidak hanya satu melainkan beberapa kuda yang ditunggangi orang sedang menuju ke arahnya. Kuda – kuda yang ditunggangi orang itu mendekat. Namun saat kuda – kuda itu melewatinya, Bapak itu hanya melihat para penunggang di atas kuda – kuda itu melintasinya sambil lalu tanpa menoleh ke arahnya dan Bapak itu pun tidak memanggil mereka untuk berhenti sama sekali. Akhirnya kuda – kuda itu beserta penunggang di atasnya menderap menyeberangi sungai dan semakin menjauhi Bapak yang masih berdiri memandangi mereka dari kejauhan.

Tak lama kemudian, datang seorang penunggang kuda lain mendekat. Sang penunggang kuda saling berpandangan dengan Bapak itu. Kemudian Bapak itu berkata kepadanya.
“Tuan, apakah Anda bersedia menolong laki – laki tua ini menyeberangi sungai?”
Penunggang kuda itu masih menatap Bapak itu dengan tatapan mata yang ramah. Dan Bapak itu melanjutkan kata – katanya sembari penunggang itu turun dari kudanya. “Aku tidak dapat berjalan menyeberanginya.”

Penunggang kuda itu menjawab. “Tidak masalah. Saya akan menolong Anda dan membantu Anda menyeberang.” Kemudian penunggang itu menolong Bapak tersebut naik ke atas kudanya. Tak lama setelah itu mereka bersama – sama menyeberangi sungai yang dingin itu dengan kuda milik penunggang yang berhati mulia itu.

Setiba di seberang sungai Bapak itu mengucapkan terimakasih secara tulus kepada penunggang kuda yang telah memberinya tumpangan. Bapak itu ingin turun dari kuda dan bermaksud melanjutkan perjalanan ke rumahnya dengan berjalan kaki. Namun penunggang kuda itu berkata kepadanya.
“Musim dingin saat ini sangat tidak bersahabat meskipun Anda telah tiba dengan selamat dari penyeberangan itu. Aku akan mengantar Anda tiba di rumah dengan selamat.”

Bapak itu terharu akan kebaikan hati penunggang kuda itu dan berkata, “Tuhan Maha Pemurah, Anda benar – benar baik hati.” Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Bapak itu.

“Aku sedikit khawatir karena perjalanan ke rumahku membutuhkan beberapa jam lagi.” Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi penunggang kuda tersebut sebab dia telah berjanji akan mengantarkan Bapak itu tiba dengan selamat di rumahnya. Dan tak lama kemudian mereka tiba di depan rumah Bapak itu dengan kondisi salju hampir menutupi seluruh tubuh mereka.

“Saljunya deras sekali. Untung aku bisa bertemu dengan Anda.” Ucap Bapak itu sambil turun dari kudanya. Lanjutnya lagi. “Silahkan mampir meskipun hanya ada secangkir teh hangat.”
Penunggang kuda itu menolaknya dengan halus. “Terimakasih. Kurasa itu tidak perlu sebab aku harus segera pulang juga. Namun, ada yang ingin kutanyakan kepadamu.” Bapak itu menganggukkan kepalanya.

“Beberapa saat sebelum aku tiba, ada sekelompok orang berkuda yang melewati Anda, tetapi Anda sama sekali tidak meminta pertolongan dari mereka. Saat aku datang, Anda langsung memohon pertolongan dariku. Mengapa Anda menunggu hingga aku datang dan Anda baru meminta bantuan dariku?” Bapak itu tercengang dengan pertanyaan yang diajukan oleh penunggang kuda itu. Matanya terbelalak heran. Dan penunggang kuda itu melanjutkan kata – katanya.
“Jika saat itu aku menolak untuk menolong, Anda tidak akan punya kesempatan lagi dan akan tinggal sendirian di sana.” Bapak itu mulai menjawab.

“Aku sudah cukup lama tinggal di daerah ini. Aku yakin aku cukup mengenal dengan baik orang – orang yang ada di sini. Saat kelompok penunggang kuda itu melewatiku, aku menatap mata mereka dan aku sadar mereka sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi padaku. Menurutku tidak ada gunanya meminta bantuan dari mereka. Dan saat Anda lewat, Anda melihat dan membalas tatapanku. Aku menangkap sorot mata Anda dan melihat ada sinar kebaikan dan belas kasih di sana. Saat itu juga aku tahu, hati Anda yang hangat dan baik akan menolongku keluar dari kesulitan ini.”
Setelah mendengar kata – kata Bapak itu, sang penunggang kuda merenung sebentar. Kemudian dia berkata kepada Bapak itu dengan rasa terimakasih.

“Terimakasih Anda telah bersedia menceritakannya kepadaku.” Sambil menarik kudanya, penunggang itu melanjutkan kata – katanya. “Aku akan berusaha untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri dan membuat kesalahan dengan mengabaikan sesama yang sedang dalam kesulitan.”

Dan setelah mengatakan itu, Thomas Jefferson, sang Presiden Amerika Serikat yang ketiga pada waktu itu, kembali berkuda dalam perjalanan pulangnya ke Gedung Putih di Washington DC.

Thomas Jefferson lahir pada tanggal 13 April 1743 dan menjadi Presiden AS terpilih yang ketiga di tahun 1801 hingga 1809. Sebelumnya beliau adalah pendamping Presiden AS kedua, John Adams, sebagai Wakil Presiden. Beliau memulai karir politiknya sebagai pengacara hukum yang membela hak-hak masyarakat Virginia dari berbagai lapisan masyarakat. Tahun 1776 beliau ikut menulis rancangan pertama Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat saat usianya baru 33 tahun. Selain itu, beliau juga mengeluarkan petisi kebebasan beragama dan disahkan oleh Kongres di tahun 1786. Pada pemilu Presiden AS di tahun 1800, beliau menjadi Presiden terpilih untuk menggantikan John Adams dan melanjutkan tugas – tugas kepresidenan dalam membangun Amerika Serikat. Tahun 1804 beliau terpilih kembali sebagai Presiden untuk masa jabatan kedua kalinya.

Tahun 1819 beliau mendirikan University of Virginia sehingga dipanggil dengan sebutan Bapak Universitas.



University of Virginia
Salah satu kutipannya yang terkenal adalah “Saya lebih memilih surat kabar tanpa pemerintahan daripada pemerintahan tanpa surat kabar”.

Beliau dijuluki sebagai Saint of Monticello yang sekular atas pengaruhnya terhadap begitu banyak orang dengan pengetahuan dalam bidang filosofi, ilmu alam, arsitektuf, pertanian, dan linguistik. Monticello adalah kawasan perhunian beserta perkebunan milik Jefferson di negara bagian Virginia. Dalam mengelola wilayah perkebunan yang luas dan rumah besar yang berarsitektur neokolonial pada masa itu, Jefferson membutuhkan 600 budak untuk mengelolanya, membuat Monticello bukan sekadar hunian tuan tanah biasa.

Thomas Jefferson meninggal dunia pada tanggal 4 Juli 1826, di hari perayaan kemerdekaan Amerika Serikat yang ke 50. Beliau meninggal beberapa jam sebelum meninggalnya John Adams, Presiden AS yang kedua. Perhunian Monticello-nya diberikan kepada Pemerintah AS sebagai sekolah bagi kaum yatim piatu untuk menjadi pejabat pemerintah.

Di nisannya yang menyerupai sebuah tugu, tertulis kalimat hasil kreasi pribadinya:

HERE WAS BURIED THOMAS JEFFERSON
AUTHOR OF THE DECLARATION OF AMERICAN INDEPENDENCE
OF THE STATUTE OF VIRGINIA FOR RELIGIOUS FREEDOM
AND FATHER OF THE UNIVERSITY OF VIRGINIA

BORN APRIL 2 1743 O.S.
DIED JULY 4 1826

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar