Aksara Bea in Wonderland

My Wonderland of Words

This is the other side of me in "aksara" a.k.a "letters" with my own way, my own Wonderland, Aksara Bea

Minggu, 24 Juli 2011

Tuliskan Hasil Renungan Dalam Sebuah Buku Saat Sedang Berada di Toilet

Judul Buku : The Diary of Amos Lee - Hasil Renungan Nongkrong di WC
Diterjemahkan dari : The Diary of Amos Lee - I Sit, I Write, I Flush!
Penulis : Adeline Foo
Penerjemah : Tessa Febiani
Ilustrasi dan desain kover : Stephanie Wong
Editor : Fita Riyadi
Penata Letak : Lulu Triardhian Helmy
Penerbit : Buah Hati
Cetakan I : Maret 2011

Nama saya Amos dan marga keluarga saya adalah Lee. Hobi saya menulis diary. Well, sebenarnya bukan hobi yang sesungguhnya. Saya tidak pernah berpikir akan menulis sebuah diary. Ini bermula dari resolusi ibu di Tahun Baru kemarin yang ingin waktu yang ada untuk duduk di atas kloset tiap melakukan kegiatan pembuangan biologis tidak tersia-siakan oleh saya. Dan juga untuk kesehatan saya sendiri. Kutulis saja setiap kegiatan yang bersinggungan denganku dan juga pemikiran-pemikiranku terhadap berbagai hal yang kutemui sepanjang hari. Sayangnya, karena diary ini diletakkan di atas rak dalam toilet, maka ayah dan ibu juga ikut membacanya. Buktinya terlihat ada tulisan tangan mereka yang mengomentari hal-hal yang menurut mereka perlu dikomentari tentang saya. Saya curiga apakah Ah Kong dan Po-Po juga ikut membaca. RPJ tidak mungkin. Tapi, tulisannya yang besar di akhir halaman sempat membuatku merasa … hmm … saya sulit mendeskripsikannya.

Saya masih SD dan saya punya dua orang sahabat. Mereka adalah Anthony dan Alvin. Karena nama kami bertiga diawali dengan huruf ‘A’ maka kami pun dijuluki 3A. Kami punya musuh di sekolah. Ia kakak senior kami. Michael namanya. Hingga suatu hari ada kejadian tak terduga membuat kami pun berdamai dengannya. Apakah kami merasa bersalah atas hal itu? Saya kurang tahu.

Saya tidak punya prestasi akademik yang bisa dibanggakan. Tapi ada pepatah yang mengatakan setiap manusia bisa sukses asal punya usaha untuk kerja keras dan niat mewujudkannya. Saya tidak sadar punya bakat yang lain selain menulis diary hingga impian memiliki ‘gadget’ membuat saya memiliki kemampuan untuk itu.

Tak terasa sudah setahun saya menuliskan diary dan tidak terasa begitu banyak hal-hal yang menyenangkan yang kualami sepanjang tahun ini. Ternyata menuliskan diary itu mengasyikkan. Saya akan melanjutkan menulis lagi. Tapi tidak lagi dalam toilet.
 
Catatan Kecil:
1. Kutempelkan resep kue tar nanas ala Po-Po yang lezat dalam diary ini. >,^
2. Ternyata butuh kerjasama antar 2 negara dalam menerbitkan buku harian saya ini. ^O^

Amos Lee

1 komentar:

  1. boleh juga tuh, biasanya di toilet sambil baca, ini sambil nulis :D

    BalasHapus