Aksara Bea in Wonderland

My Wonderland of Words

This is the other side of me in "aksara" a.k.a "letters" with my own way, my own Wonderland, Aksara Bea

Senin, 27 Mei 2013

Tiga Perempuan, Tiga Cerita, Tiga Cinta

 
Judul Buku : 20, 30, 40 (Club Camilan, #2)
Penulis : Jaqueline Brahms, Rara Pramesti, Cenila Krena
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre : Metropop
Rate : 2 of 5 stars




Setiap peristiwa melahirkan sebuah kisah, dan kisah itu bisa menjadi kisah yang bahagia atau berakhir menjadi kisah yang sedih. Namun, terkadang kisah bisa lahir begitu saja tanpa suatu peristiwa. Depends on people and life secret itself. Sederhana saja, coba bayangkan jika Derek Shepherd bisa melupakan perselingkuhan Addison Montgomery lalu tetap tinggal di New York, melanjutkan hidup dan pernikahannya, mengesampingkan Mark, saya rasa dia tidak akan pernah bertemu dengan Meredith Grey di Seattle dan kisah percintaan mereka tidak akan pernah terjadi.*wink* Peristiwa hidup terjadi karena suatu alasan dan kita tidak pernah tahu akhir dari peristiwa itu akan menjadi apa. It will be not a surprise if we know it at first, yet we will avoid it if the ending is not get along with us.

 

Jika boleh memilih, Cenila ingin bahagia bersama kedua anaknya. Ia tidak mau dikhianati dua kali, satu kali oleh suaminya dan satu kali oleh Fero. Dan ia pun tidak mau kembali ke Indonesia, menetap di Moscow seumur hidup. Namun, hidup ini mesti dijalani satu per satu bagian, tidak bisa dilompati begitu saja, melompati bagian yang menyengsarakan dan memilih bagian yang menyenangkan. Cenila harus menjalani drama perceraian dengan suaminya, hidup dengan Fero lalu dikhianati olehnya, pulang kembali ke Indonesia dan terlibat dalam kisah cinta dengan perempuan lainnya yang mengakibatkan urusan hidupnya semakin ruwet. Cinta pada dasarnya adalah memaafkan. Pada akhirnya Cenila memutuskan untuk menetap di Moscow, memaafkan masa lalunya dan berdamai dengan hidupnya.

Bahagia itu bisa datang dari masa lalu. Tidak percaya? Tanyakan saja ke Jaqs. Ia lebih suka dipanggil Jaqs ketimbang Jackie, lebih maskulin dan cocok dengan dirinya yang andro. (Tak terbalik?) Itu pilihan dan selera setiap orang berbeda. Begitu pun Jaqs. Ia sudah mencoba untuk merasakan bahagia dari masa depan dengan memilih mendekati  seorang perempuan cantik dan manis yang ternyata membuat hidupnya tidak mudah. Ia menyerah dan memilih kembali dengan masa lalu yang akan membuatnya lebih bahagia. Hidup sudah sulit, jangan semakin dipersulit lagi.

Di tempat lain, Rara juga memilih masa lalu yang bisa membuatnya bahagia dan Eki adalah jawaban atas kegusarannya untuk bahagia selama ini. Namun berbeda dengan Jaqs , Rara harus berusaha keras untuk berdamai dengan masa lalunya demi satu kata bahagia dan dia harus menghadapi semua badai dalam langkah hidupnya yang selanjutnya yang tidak dapat dijalani oleh semua orang. Masa depan yang lebih baik dengan lelaki yang mencintainya tidak mampu membuatnya bertahan pada opini pernikahan dan dia pun meninggalkan lelaki itu demi Eki, perempuan yang pernah terlibat secara tidak langsung dengan masa lalunya yang kelam.




Camilan Sepoci Kopi hadir di depan saya saat kejenuhan akan rutinitas menyerang saya tanpa pandang bulu. Pasien, bangsal, konsulen, paramedic, teman-teman seperjuangan dalam jubah koas dan segala tetek bengek rumah sakit membuat saya jengah. Melalui Camilan Sepoci Kopi dalam Club Camilan yang pertama, saya berkenalan dengan Donna dan Nie. Mereka penulis, sebagai pekerjaan sampingan, dan memiliki sebuah apartemen yang berisi buku. Tidak bisa menebak apa pekerjaan mereka sesungguhnya karena mereka penuh rahasia dan tidak bisa dimengerti. Oleh karena itu, buku pertama mereka saya hanya memberi nilai 2 bintang.  Dari Club Camilan yang pertama ini, saya menelusuri sepak terjang karya tulis mereka melalui blog yang mereka buat dengan nama camilansepocikopi.blogspot.com dan hasilnya terpapar karya tulis mereka yang kedua dengan komposisi penulis yang berbeda. Saya mulai membaca kisah pertama yang ditulis oleh Cenila, perempuan paruh baya yang mulai berusia 40 tahun. Kisah yang ditulis telah masuk pertengahan cerita yakni Cenila memutuskan pergi dari Fero dan kota Moscow dengan membawa kedua orang anaknya kembali ke Indonesia, tepatnya ke kota Padang.

Kisah yang disajikan di blog ditampilkan per bagian tiap harinya dan dikisahkan selang – seling oleh tiga penulis ini sehingga membangkitkan antusias penikmat cerita yang bernuansa lesbian ini. Akhir ceritanya mudah ditebak, happy ending. Dan setelah dibukukan sebagai serial kedua Club Camilan, nuansa ceritanya berubah dan menjadi kurang bagus, walaupun saya cukup menyukai kisah Cenila. Mungkin sebaiknya dibiarkan karyanya tetap di blog tanpa dibukukan atau diramu kembali sesuai dengan konteks novel saat dibukukan agar menjadi menarik dan manis seperti cupcakes. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar